Cara Budidaya Tanaman Tempuyung

Tanaman tempuyung (Sonchus arvensis L.) bisa dibudidayakan dengan upaya perbanyakan menggunakan biji atau dikembangbiakan dengan teknik vegetatif. Secara ekonomis, tanaman tempuyung ini mampu menciptakan peluang penghasilan tambahan untuk para petani.

Dari lahan yang luasnya 100 m2, lahan tersebut diolah dan ditanami dengan tempuyung, akan didapati 40 kg daun tanaman tempuyung basah, yang harga jualnya sekitar Rp 1.000/kg. Tempuyung tersebut bisa ditanam secara tumpangsari dengan beberapa tumbuhan holtikultura lain. Tanaman ini dapat kita dipanen setiap 2 sampai 3 bulan sekali. Secara umum, budidaya tanaman tempuyung bisa dilakukan dengan menerapkan metode seperti berikut:

  1. Lahan yang akan kita pakai, diolah dengan menggunakan bedengan 20-30 cm. Panjang bedengan tersebut disesuaikan dengan keadaan lahan, serta dipupuk dengan pupuk jenis organik.
  2. Pilih bibitan yang baik, tingginya seragam 10 cm, memiliki daun 4 (berumur dua bulan), sebaiknya dipindahkan dari tempat persemaian yang telah kita buat terlebih dahulu. Tanamkan bibitan tersebut ke lubang-lubang yang tersedia sedalam kurang lebih 5 cm. Padatkan tanah sekitar si pangkal bibit, dengan jarak tanam sekitar 30-40 cm.
  3. Pemeliharaan tanaman tempuyung sebenarnya tidak terlalu sulit karena tanaman ini mampu tumbuh secara liar di sembarang tempat. Agar mendapatkan hasil yang bagus, dibutuhkan pemeliharaan yang dilakukan secara intensif, antara lain dengan melakukan penyiraman, penyulaman, penyiangan berkala, pemupukan sesuai kebutuhan dan pengendalian hama.
  4. Menurut Laporan dari Iptekda LIPI, waktu panen yang cukup tepat adalah ketika sebelum tanaman tersebut berbunga. Sehingga bisa diperoleh pertumbuhan vegetatif tanaman yang optimal. Panen pertama tanaman ini dilakukan pada usia 2,5 sampai 3 bulan. Cara memanen daun tanaman tempuyung yaitu dengan melakukan pemotongan daun serta batang hingga bagian pangkal dengan menggunakan gunting atau bisa juga dengan pisau tajam. Tanaman tersebut akan dapat segera tumbuh kembali dengan hadirnya tunas dan daun-daun baru. Panen kedua sudah bisa dilakukan dua bulan sesudah panen pertama, dan kemudian seterusnya. Tanaman tersebut bisa dipanen 4 sampai 5 kali.

Perbanyakan tanamanĀ  tempuyung dapat diusahakan dengan menggunakan bibit dari biji, dapat juga menggunakan bagian bonggol akar dari tanaman tempuyung yang daunnya telah dipanen. Tumbuhan tempuyung ini sangatlah mudah dibudidayakan dengan menggunakan biji. Biji tempuyung teksturnya sangat halus. 1 gram biji yang berserat memiliki kandungan 2.500 biji, sedangkan biji tanpa serat mengandung sejumlah 3.000 biji. Daya kecambah biji tersebut cepat menurun. Oleh karenanya, sangatlah baik bila menggunakan biji yang masih baru dan disimpan paling lama 1 bulan.

Baca Juga :

Benih memerlukan proses penyemaian terlebih dahulu agar tidak banyak yang mati kekeringan, rusak oleh teriknya matahari, terlalu basah ataup lembab dan mengurangi kemungkinan terpengaruh oleh keadaan lingkungan buruk yang lain. Persemaian dibuat dengan bedengan yang dikelola baik. Permukaan butir tanahnya sebaiknya dihaluskan dan sebaiknya dilakukan pelapisan pasir setebal 2 sampai 3 cm.

Permukaan persemaian tersebut ditutup dengan menggunakan lembaran plastik. Persemaian ini diberi atap pelindung yang menghadap ke arah matahari terbit. Untuk 1 hektar areal per tanaman diperlukan 100 gram sampai 200 gram biji tanpa serat dengan luas persemaian bibit mencapai 10m2 sampai 20m2. Benih ini kemudian disebar rata pada persemaian dan akan tumbuh dalam kurun waktu 4 sampai 5 hari kemudian. Benih yang telah berumur 1 minggu tersebut mulai diperjarang dan dicabut sedikit demi sedikit untuk dipindahkan ke lubang sebesar ukuran pensil yang dibuat di permukaan bumbungan tanah yang sudah dicampuri pupuk kandang dan dibungkus dengan menggunakan daun tinggi bumbungan 5 cm dan juga garis tengah 3 cm. Tiap bumbungan diisi dengan menggunakan 1 bibit.

Pemeliharaan persemaian tanaman dilakukan dengan metode penyiraman pada pagi dan sore hari, memperpanjang bibit dan menghilangkan bagian bibit yang mulai terserang penyakit. Setelah tanaman berumur sekitar 2 bulan, bibit tanaman dalam bumbungan sudah dirasa cukup besar dan kuat untuk ditanam di lahan, dua minggu sebelum ditanam bibit dalam bumbungan dapat dipindahkan ke tempat yang lebih terang dengan tujuan melatih dan mengadaptasikan tanaman terhadap terik matahari, dengan ukuran bibit pada waktu dipindahkan ke kebun mencapai ukuran 3 hingga 5 cm. Tanaman ini berdaun 4 hingga 5 helai, panjang daun mencapai 5 sampai 10 cm dan lebarnya 2 sampai 3 cm.

Pemeliharaan tanaman yang berupa penyiraman dilakukan bila 2 atau 3 hari tidak turun hujan, menyulam 1 sampai 2 minggu setelah tanam, menyiangi 3 hingga 5 kali, melakukan pemupukan saat umur 3 dan 8 minggu setelah lewat masa tanam serta memangkas batang bunga agar pertumbuhan daun tanaman lebih banyak.

Pemupukan dengan 34 kg nitrogen di tiap hektarnya pada umur 3 minggu sesudah tanaman ditanam dapat berpotensi meningkatkan hasil panen sebanyak 14%. Pemupukan kedua bila dipandang memang perlu diberikan, dapat diberikan pada umur 8 minggu setelah masa tanam dengan jumlah kadar pupuk yang sama.

Panen daun yang pertama bisa dilakukan pada umur 2 bulan setelah tanam. Panen selanjutnya bisa dilakukan tiap setengah bulan sampai 1 bulan sekali hingga tanaman mencapai umur 3 bulan sampai 5 bulan setelah penanaman.

Hasil yang diperoleh adalah 970 kg hingga 1.200 kg daun kering tiap hektar pada panen tanaman yang tidak terserang jamur karat (Puccinia Sonchus arvensis) dan penyakit pembusukan pangkal batang atau pembusukan pada bagian akar. Bila terdapat serangan penyakit jamur karat di tanaman tersebut, hasil yang diperoleh dapat berkurang dari 30% sampai 80%, yakni hanya berasal dari panen pertama dan kedua. Penyakit karat adalah faktor penghambat bagi budidaya Sonchus. Daun yang terserang tersebut, penuh dengan bercak-bercak coklat kehitaman dan akhirnya ia akan mengering.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *